Kepuhsari, desa Wayang di Wonogiri

Ki Manteb Sudharsono, dalang wayang kulit terkenal itu, ternyata mempelajari dunia perwayangan dari sebuah desa di ujung selatan Wonogiri, Jawa Tengah. Desa itu mungkin kurang dikenal masyarakat luas. Tapi tidak dengan dunia perwayangan kulit Indonesia.

Namanya Desa Kepuhsari. Desa tersebut berada di atas perbukitan kars Kecamatan Manyaran, berjarak 41 kilometer dari pusat Kabupaten Wonogiri.

Dilingkupi tatar perbukitan cadas, Kepuhsari dihiasi tumbuhan-tumbuhan khas macam pohon sawo dan pohon jati. Tak hanya itu, sawah juga menghampar berundak-undak. Sayangnya, saat kemarau tiba, hamparan sawah yang menghijau berubah wujud.Kuning kecoklatan, kering. Bukan bulir padi yang tampak melainkan tanah yang tak tertanam.

Turis asing belajar tatah sungging wayang kulit di stan Kampung Wisata Wayang Desa Kepuhsari saat pameran produk unggulan Wonogiri di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Jawa Tengah, Sabtu (29/11). Pemerintah Kabupaten Wonogiri menjadikan Desa Kepuhsari sebagai desa wisata kampung wayang karena menjadi desa cikal bakal dalang di Wonogiri dengan memiliki 400-an perajin tatah sungging wayang kulit, sehingga hampir setiap pekan terdapat turis asing yang belajar seni pedalangan. ANTARA FOTO/Maulana Surya/ed/pd/14.
Turis asing belajar tatah sungging wayang kulit di stan Kampung Wisata Wayang Desa Kepuhsari saat pameran produk unggulan Wonogiri di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Jawa Tengah, Sabtu (29/11). Pemerintah Kabupaten Wonogiri menjadikan Desa Kepuhsari sebagai desa wisata kampung wayang karena menjadi desa cikal bakal dalang di Wonogiri dengan memiliki 400-an perajin tatah sungging wayang kulit, sehingga hampir setiap pekan terdapat turis asing yang belajar seni pedalangan. ANTARA FOTO/Maulana Surya/ed/pd/14.

Beruntung, Desa Kepuhsari dihuni manusia-manusia kreatif yang tak hanya berkutat di sawah atau ladang. Mereka seakan punya dunia lain yang membuat hidupnya penuh warna. Dunia penuh kebijaksanaan, dunia wayang.

Wayang kulit seolah mendarah daging di tubuh warga Desa Kepuhsari. Wayang bukan cuma dipentaskan, wayang menjadi identitas yang tak bisa lepas dari jalan cerita hidup warga Kepuhsari.

Bagi mereka, wayang juga bukan cuma pelajaran hidup. Wayang dikomodifikasi agar bisa diandalkan untuk menyambung hidup sehari-sehari selain bercocok tanam yang selama ini menjadi tumpuan. Maka tak bisa dipungkiri lagi, wayang bagi Desa Kepuhsari adalah sumber penghidupan.

Desa Kepuhsari, Wonogiri, Jawa Tengah, dapat ditempuh dua jam dari Solo atau Yogyakarta dengan kendaraan- berpenduduk mayoritas pengrajin wayang kulit.

Di depan rumah sebagian besar penduduk yang berjumlah sekitar 6.000 jiwa, selalu ada meja di depan rumah untuk menatah atau melubangi wayang kulit.

Mulai dari anak usia tujuh tahun sampai mereka yang sudah lanjut usia setiap hari duduk di meja tatah ini setelah bekerja dan sekolah.

Desa Kepuhsari memang berdandan dalam satu tahun terakhir dan September lalu menjadi Wayang Village, desa wisata untuk menarik para pengunjung menyaksikan tradisi dan budaya yang sudah berjalan turun temurun ini.
Penggagasnya empat anak muda, Ariel Pradipta, Fiona Ekaristi, Patricia Sanjoto dan Rieke Caroline.

Lebih dari 30 rumah penduduk dijadikan ‘homestay’ atau siap untuk menampung pengunjung yang ingin menginap dan merasakan kehidupan di sentra kerajinan wayang kulit ini.

Turis asing belajar tatah sungging wayang kulit di stan Kampung Wisata Wayang Desa Kepuhsari saat pameran produk unggulan Wonogiri di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Jawa Tengah, Sabtu (29/11). Pemerintah Kabupaten Wonogiri menjadikan Desa Kepuhsari sebagai desa wisata kampung wayang karena menjadi desa cikal bakal dalang di Wonogiri dengan memiliki 400-an perajin tatah sungging wayang kulit, sehingga hampir setiap pekan terdapat turis asing yang belajar seni pedalangan. ANTARA FOTO/Maulana Surya/ed/pd/14.
Turis asing belajar tatah sungging wayang kulit di stan Kampung Wisata Wayang Desa Kepuhsari saat pameran produk unggulan Wonogiri di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Jawa Tengah, Sabtu (29/11). Pemerintah Kabupaten Wonogiri menjadikan Desa Kepuhsari sebagai desa wisata kampung wayang karena menjadi desa cikal bakal dalang di Wonogiri dengan memiliki 400-an perajin tatah sungging wayang kulit, sehingga hampir setiap pekan terdapat turis asing yang belajar seni pedalangan. ANTARA FOTO/Maulana Surya/ed/pd/14.

Kerajinan wayang kulit

“Desa Kepuhsari kami pilih karena memiliki nilai historis. Tradisi wayang kulit sudah ada di desa ini lebih seratus tahun lalu,” kata Fiona.

“Bukan hanya pembuatan wayang kulit, seni pendalangan juga telah mendarah daging. Bisa dibilang masyarakat desa ini telah akrab dengan kisah wayang beserta maknanya,” tambah Fiona.

Paket kunjungan yang ditawarkan ke turis mulai dari satu hari sampai tiga hari.

Sujoko – yang bekerja sebagai perangkat desa Kepuhsari – juga mengikuti jejak ayahnya menjadi pengrajin.
“Sudah sejak kecil kami menatah wayang. Putra saya yang berusia tujuh tahun juga sudah mahir. Jadi kalau tidak menatah wayang seperti warga lainnya, rasanya risih,” cerita Sujoko.

“Kami sering kali tidur di atas jam 2 pagi dan pada malam hari, bersama ayah saya, kami habiskan waktu di meja tatah. Tanpa bicara apapun. Hanya menatah,” kata Sujoko.

Diundang UNESCO

Salah satu generasi pengrajin wayang adalah Dwi Sunaryo, yang menurutnya telah berjalan sampai 20 generasi sampai anaknya, Bambang Riyadi.

Bambang Riyadi diundang UNECSO ke Cina November lalu untuk mengikuti pameran kerajinan dan budaya. Ia meraih medali emas dari penyelenggara.

Produksi pengrajin desa ini digunakan oleh sejumlah dalang terkenal, kata Fiona.

Dari sekitar 100 turis yang datang ke Kepuhsari, sekitar setengah di antaranya adalah pengunjung dari mancanegara, sebagian besar dari Eropa, kata Fiona.

“Walaupun potensinya sangat besar, mereka tidak bisa menopang kehidupan dari kerajinan ini, karena penggemar wayang yang terbatas dan juga minat orang yang terus berkurang,” tambahnya.

Pengunjung desa wisata ini dapat ikut mencoba menatah dan mewarnai wayang serta menyaksikan pertunjukan wayang sambil menikmati hidangan khas desa.

“Yang jelas, selain untuk menarik turis asing, kami juga ingin mengajak anak-anak muda Indonesia menikmati kekayaan budaya, termasuk wayang,” kata Fiona.

“Desa wayang ini merupakan proyek pertama kami dan kami berharap akan terbentuk banyak desa lain di seluruh Indonesia yang juga mengangkat berbagai budaya dan tradisi,” tambahnya. (metrotvnews, BBC)