Mix-Media tentang cinta karya 3 seniman muda Surabaya

Tiga seniman, yakni Asmuliawan “Bogel”, Mohamad Arifin “Londo”, dan Soviani Manao “Mochin”, memamerkan 39 karya “mix-media” mereka tentang cinta di Galeri Seni “House of Sampoerna” (HoS) pada 19 Desember 2014 – 11 Januari 2015.

“Melalui pameran ini, kami berharap dapat mengukur hasil karya yang telah kami capai kepada masyarakat guna mendapat kritik dan saran membangun untuk meraih pengetahuan tentang kesenian yang lebih baik,” ujar Asmuliawan ‘Bogel’ di sela persiapan pameran itu di Galeri HoS Surabaya, Rabu.

Dua perempuan berada di samping karya seni instalasi berbahan logam karya seniman muda Surabaya, M Arifin Londo, saat pameran seni rupa Mix Media, di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya, Rabu (17/12). Pameran seni rupa bertajuk 'Trinical Sensibility (Cinta dalam 3 Dimensi)' yang merupakan kolaborasi tiga media seni rupa (besi, keramik dan fiberglass) karya tiga seniman muda Surabaya Asmuliawan Bogel, M Arifin Londo dan Soviani Manao Mochin tersebut, mencoba menterjemahkam 'cinta' dengan ciri khas masing-masing, yang tertuang dalam 39 karya seni tiga dimensi. ANTARA FOTO/Eric Ireng/ed/nz/14
Dua perempuan berada di samping karya seni instalasi berbahan logam karya seniman muda Surabaya, M Arifin Londo, saat pameran seni rupa Mix Media, di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya, Rabu (17/12). Pameran seni rupa bertajuk ‘Trinical Sensibility (Cinta dalam 3 Dimensi)’ yang merupakan kolaborasi tiga media seni rupa (besi, keramik dan fiberglass) karya tiga seniman muda Surabaya Asmuliawan Bogel, M Arifin Londo dan Soviani Manao Mochin tersebut, mencoba menterjemahkam ‘cinta’ dengan ciri khas masing-masing, yang tertuang dalam 39 karya seni tiga dimensi. ANTARA FOTO/Eric Ireng/ed/nz/14

Senada dengan itu, Arifin ‘Londo’ berharap pameran kolaborasi yang bertajuk “Trinical Sensibility” (cinta dalam karya 3 dimensi) itu dapat menjadi pijakan pribadi untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih baik.

“Pameran ini menjadi ajang bagi kami untuk memperkenalkan diri ke dunia seni rupa sekaligus mengapresiasi seni patung instalasi serta keramik,” ujarnya.

Bagi ketiga seniman alumni STKW itu, Cinta yang dipilih sebagai tema itu memiliki berbagai definisi dan sifat. Keragaman dan kepekaan dalam merespons cinta inilah yang diekspresikan oleh ketiganya secara kolaborasi.

Misalnya, karya “Laurent” dari Bogel bercerita tentang bagaimana seorang perempuan mencintai dirinya dengan berusaha untuk selalu tampil menarik dan cantik.

Karya-karya Bogel memperlihatkan bentuk dengan kontur halus dan sempurna walau dengan deformasi bentuk sebagai ciri khasnya.

Dua perempuan berada di samping karya seni instalasi berbahan logam karya seniman muda Surabaya, M Arifin Londo, saat pameran seni rupa Mix Media, di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya, Rabu (17/12). Pameran seni rupa bertajuk 'Trinical Sensibility (Cinta dalam 3 Dimensi)' yang merupakan kolaborasi tiga media seni rupa (besi, keramik dan fiberglass) karya tiga seniman muda Surabaya Asmuliawan Bogel, M Arifin Londo dan Soviani Manao Mochin tersebut, mencoba menterjemahkam 'cinta' dengan ciri khas masing-masing, yang tertuang dalam 39 karya seni tiga dimensi. ANTARA FOTO/Eric Ireng/ed/nz/14
Dua perempuan berada di samping karya seni instalasi berbahan logam karya seniman muda Surabaya, M Arifin Londo, saat pameran seni rupa Mix Media, di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya, Rabu (17/12). Pameran seni rupa bertajuk ‘Trinical Sensibility (Cinta dalam 3 Dimensi)’ yang merupakan kolaborasi tiga media seni rupa (besi, keramik dan fiberglass) karya tiga seniman muda Surabaya Asmuliawan Bogel, M Arifin Londo dan Soviani Manao Mochin tersebut, mencoba menterjemahkam ‘cinta’ dengan ciri khas masing-masing, yang tertuang dalam 39 karya seni tiga dimensi. ANTARA FOTO/Eric Ireng/ed/nz/14

Sementara Arifin “Londo” menuangkan imajinasinya dalam bentuk karya dengan gaya lebih keras dan kaku untuk menggambarkan emosi yang juga terkandung dalam sebuah hubungan percintaan seperti yang terlihat pada karya “Berdua Saja” yang menggambarkan romantisme sepasang kekasih.

Lain halnya dengan karya “Mochin” yang berjudul “Special Moment” mengembalikan memori indah akan masa lalu yang merupakan kenangan pribadi sang seniman.

Ketiganya berharap kolaborasi pertama mereka dalam pameran ini dapat memberikan wawasan seni rupa khususnya seni patung instalasi serta keramik terhadap masyarakat luas.

Sementara itu, House of Sampoerna (HoS) sejak berdiri pada tahun 2003 hingga kini terus berkomitmen untuk turut mendukung dan mengapresiasi berbagai karya seni, budaya, sejarah dan pariwisata Indonesia dengan menyelenggarakan berbagai agenda kegiatan dengan mengedepankan sisi edukatif dan sosial yang dapat juga mendukung perkembangan ekonomi masyarakat.(Antara)