Rambu Solo’ upacara kematian adat Tana Toraja : Galery Foto

Kebudayaan tradisi yang dipertahankan secara turun-temurun hingga berabad-abad menjadi kekuatan utama potensi wisata Tana Toraja. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan setiap tahunnya di Tana Toraja ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Setiap penduduk Suku Toraja sangat sadar pelestarian kebudayaan tradisi. Mereka menjunjung tinggi budaya serta adat istiadat peninggalan nenek moyang mereka dan melestarikannya hingga saat ini. Pelestarian budaya daerah inilah yang mebuan Tana Toraja menjadi daerah wisata andalan yang dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Selatan.

Penari membawakan tarian penerima tamu pada prosesi upacara kematian Rambu Solo di Desa Ba'tan, Kesu, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (19/12). Upacara Rambu Solo merupakan ritual adat sebagai penghormatan terakhir sekaligus mengantarkan orang tercinta yang telah meninggal dunia menuju ke alam puya atau alam baka. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/Koz/Spt/14.
Penari membawakan tarian penerima tamu pada prosesi upacara kematian Rambu Solo di Desa Ba’tan, Kesu, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (19/12). Upacara Rambu Solo merupakan ritual adat sebagai penghormatan terakhir sekaligus mengantarkan orang tercinta yang telah meninggal dunia menuju ke alam puya atau alam baka. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/Koz/Spt/14.

Salah satu upacara adat yang terkenal di Tana Toraja adalah Rambu Solo,upacara pemakaman tradisi masyarakat Tana Toraja. Rambu Solo’ adalah kata dalam bahasa Toraja yang secara harafiah berarti asap yang arahnya ke bawah.Asap yang arahnya ke bawah artinya ritus-ritus persembahan (asap) untuk orang mati yang dilaksanakan sesudah pukul 12 ketika matahari mulai bergerak menurun.

Rambu solo’ sering juga disebut Aluk Rampe Matampu’, ritus-ritus di sebelah barat, sebab sesudah pukul 12 matahari berada di sebelah barat. Oleh karena itu ritus-ritus persembahan dilaksanakan di sebelah barat Tongkonan, rumah adat Toraja. Tidak ada undangan khusus bagi orang-orang yang akan menghadiri ritus ini. Setiap masyarakat Toraja menyadari bahwa mereka terhisab dalam persekutuan masyarakat Toraja, dan nilai-nilainya hanya dapat dihayati secara benar dan eksistensial oleh orang Toraja.

Penari membawakan tarian penerima tamu pada prosesi upacara kematian Rambu Solo di Desa Ba'tan, Kesu, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (19/12). Upacara Rambu Solo merupakan ritual adat sebagai penghormatan terakhir sekaligus mengantarkan orang tercinta yang telah meninggal dunia menuju ke alam puya atau alam baka. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/Koz/Spt/14.
Penari membawakan tarian penerima tamu pada prosesi upacara kematian Rambu Solo di Desa Ba’tan, Kesu, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (19/12). Upacara Rambu Solo merupakan ritual adat sebagai penghormatan terakhir sekaligus mengantarkan orang tercinta yang telah meninggal dunia menuju ke alam puya atau alam baka. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/Koz/Spt/14.

Masyarakat Tana Toraja mempunyai kepercayaan bahwa seseorang yang telah meninggal maka kematiannya dianggap belum sempurna bila belum menyelenggarakan upacara adat Rambu Solo. Maka sebelum proses upacara diselenggarakan, orang yang meninggal tersebut akan diperlakukan layaknya orang yang sedang sakit atau dalam kondisi lemah. Mereka akan tetap dihormati dan diperlakukan layaknya mereka masih hidup, seperti membaringkannya di ranjang ketika akan tidur, meyediakan makanan dan minuman hingga mengajaknya bercerita tentang kehidupan sehari-hari.

Pada dasarnya upacara adat Rambu Solo terbagi menjadi dua prosesi, yakni Prosesi Pemakaman atau dikenal juga dengan nama Rante serta Pertunjukkan Seni. Kedua prosesi tersebut tidak diselenggarakan secara terpisah namun saling melengkapi secara keseluruhan.

Untuk Prosesi Pemakaman atau Rante biasanya diselenggarakan di lapangan khusus yang terletak di tengah-tengah kompleks rumah adat Tongkonan dengan susunan acara yang pertama adalah proses pembungkusan jenazah yang disebut dengan Ma’Tudan Mebalun, yang kedua proses menghias peti jenazah dengan menggunakan benang emas dan perak atau disebut Ma’Roto, yang ketiga adalah proses perarakan jenazah ke sebuah tempat persemayaman atau disebut Ma’Popengkalo Alang, dan yang terakhir adalah Ma’Palao/Ma’Pasonglo yakni proses perarakan jenazah dari kompleks rumah adat Tongkonan menuju kompleks pemakaman (Lakkian).

Sejumlah kerabat berkumpul sambil melantungkan syair kesedihan dalam tarian Ma'badong pada prosesi upacara kematian Rambu Solo di Desa Ba'tan, Kesu, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (19/12). Upacara Rambu Solo merupakan ritual adat sebagai penghormatan terakhir sekaligus mengantarkan orang tercinta yang telah meninggal dunia menuju ke alam puya atau alam baka. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/Koz/Spt/14.
Sejumlah kerabat berkumpul sambil melantungkan syair kesedihan dalam tarian Ma’badong pada prosesi upacara kematian Rambu Solo di Desa Ba’tan, Kesu, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (19/12). Upacara Rambu Solo merupakan ritual adat sebagai penghormatan terakhir sekaligus mengantarkan orang tercinta yang telah meninggal dunia menuju ke alam puya atau alam baka. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/Koz/Spt/14.

Sedangkan untuk Prosesi Pertunjukkan Kesenian memiliki susunan acara yang pertama adalah perarakan kerbau untuk kurban, dilanjutkan dengan pertunjukkan beberapa musik daerah seperti Pa’Pompan, Pa’DaliDali dan Unnosong serta tarian adat setempat seperti Pa’Badong, Pa’Dondi, Pa’Randing, Pa’Katia, Pa’Papanggan, Passailo dan Pa’Silaga Tedong. Baru kemudian menuju pertunjukkan adu kerbau yang dikenal dengan nama Mapasilaga Tedong. Yang terakhir adalah ritual penyembelihan kerbau sebagai hewan kurban.

Tedong Bonga (kerbau belang) di perlihatkan sebelum di persembahkan pada prosesi upacara kematian Rambu Solo di Desa Ba'tan, Kesu, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (19/12). Upacara Rambu Solo merupakan ritual adat sebagai penghormatan terakhir sekaligus mengantarkan orang tercinta yang telah meninggal dunia menuju ke alam puya atau alam baka. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/Koz/Spt/14.
Tedong Bonga (kerbau belang) di perlihatkan sebelum di persembahkan pada prosesi upacara kematian Rambu Solo di Desa Ba’tan, Kesu, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (19/12). Upacara Rambu Solo merupakan ritual adat sebagai penghormatan terakhir sekaligus mengantarkan orang tercinta yang telah meninggal dunia menuju ke alam puya atau alam baka. ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/Koz/Spt/14.

Pertunjukkan seni yang diselenggarakan tidak hanya berfungsi untuk memeriahkan proses pemakaman, namun juga sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi orang yang sudah meninggal. Biasanya jumlah kerbau yang disembelih menjadi ukuran tingkat kekayaan dan derajat orang yang meninggal ketika mereka masih hidup. Upacara adat Rambu Solo bagi masyarakat Tana Toraja dianggap sebagai satu upacara yang penting dan hukumnya wajib. Upacara adat ini mencerminkan kehidupan masyarakat Tana Toraja yang suka bergotong royong, memiliki sikap kekeluargaan serta sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian mereka kepada orang yang telah meninggal.

Penyelenggaraan upacara adat ini tidak serta merda digelar sesaat setelah seseorang meninggal. Bisa jadi, upacara rambu Solo’ baru digelar berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah kematian. Sebab, untuk menggelar satu tradisi Rambu Solo’ membutuhkan dana yang cukup besar. (kompasiana)