Rebo Wekasan, hari diturunkannya 320 ribu musibah

Masyarakat Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, memiliki tradisi tahunan yang dipertahankan sejak 5 abad yang lalu. Tradisi tersebut yakni Ritual Rebo Wekasan, yang dipercaya masyarakat setempat sudah dijalankan sejak zaman kekuasaan Arya Penangsang.

Arya Penangsang atau Arya Jipang atau Ji Pang Kang adalah Bupati Jipang Panolan yang memerintah pada pertengahan abad ke-16.  Arya Penangsang terkenal sakti mandraguna namun memiliki kepribadian yang tempramental dan kurang sabar dalam melakukan sesuatu. Menurut Serat Kanda, Ayah dari Arya Penangsang adalah Raden Kikin atau sering disebut sebagai Pangeran Sekar, putra Raden Patah raja Demak pertama.


Sejumlah warga mengikuti kirab saat prosesi upacara Rebo Wekasan di Desa Jepang, Mejobo, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (16/12). Acara adat tahunan itu merupakan peringatan turunya tiga ratus dua puluh ribu balak dari Allah saat Rabo Wekasan (rabu terakhir) di Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa serta menjadi wujud syukur masyarakat atas keselamatan dan segala kelimpahan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ed/nz/14.
Sejumlah warga mengikuti kirab saat prosesi upacara Rebo Wekasan di Desa Jepang, Mejobo, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (16/12). Acara adat tahunan itu merupakan peringatan turunya tiga ratus dua puluh ribu balak dari Allah saat Rabo Wekasan (rabu terakhir) di Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa serta menjadi wujud syukur masyarakat atas keselamatan dan segala kelimpahan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ed/nz/14.

Rebo Wekasan merupakan ritual tolak bala yang digelar setiap tahun pada hari rabu terakhir di bulan Sapar (penanggalan Jawa). Masyarakat merasa perlu menggelar tolak bala, karena berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, pada hari Rabu terakhir di bulan Sapar itu Tuhan menurunkan 320.000 musibah ke dunia.

Masyarakat percaya, mereka dapat terhindar dari marabahaya pada Rebo Wekasan jika meminum Air Salamun berada di Masjid Wali desa setempat.Pembagian Air Salamun inilah yang menjadi inti dari ritual tersebut.

Namun dalam perkembangannya, ritual turun tenurun ini kini dikemas sebagai sebuah atraksi wisata sejarah. Pemerintah dan masyarakat setempat mengemasnya dalam bentuk kirab budaya, seperti yang digelar Rabu (17/12/2014), untuk menarik kunjungan wisatawan.

Pelaksanaan kirab dibiayai secara sukarela oleh mayarakat. Total ada sekitar 70 kelompok masyarakat yang mengikuti kirab.