Lurik pedan, keindahan yang tak lengkang oleh waktu

Periode tahun 1950 hingga 1960-an, Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tengah, pernah menjadi sentra produksi  tenun lurik terbesar di Indonesia. Ada sekitar 500 pengusaha rumahan dan 70 ribu buruh yang menggantungkan hidupnya dari tenun lurik. Semua proses pembuatan lurik dikerjakan secara manual, menggunakan alat tenun tradisional atau yang lebih dikenal dengan sebutan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), sehingga tak menherankan jika membutuhkan pekerja yang banyak.

Lurik Pedan Melintasi Zaman
Ganug Nugroho Adi/Soloraya

 

Lurik memang memiliki jejak panjang di Pedan -sebuah wilayah di pinggiran Kabupaten Klaten, sekitar 25 kilometer arah selatan Kota Surakarta.  Menurut seorang pengusaha lurik, Rachmad (83), kerajinan lurik pertama kali dibawa ke Pedan tahun 1938 oleh Suhardi Hadi Sumarto, setelah mempelajari tekstil di Textiel Inrichting Bandoeng (sekarang Sekolah Tinggi Teknologi Bandung).

Sepulang dari Bandung itulah Suhardi membuka usaha kain tenun bermotif garis-garis ini bersama keluarganya. Keluarga Suhardi kemudian menularkan usaha lurik ini ke warga Pedan. Salah satunya adalah Atmo Prawiro, yang pada akhirnya dikenal sebagai pengusaha lurik sukses. Atmo Prawiro adalah ayah dari Rachmad yang kini dikenal sebagai “Begawan Lurik”. Rachmad juga merupakan satu dari beberapa pengusaha lurik yang tersisa di Pedan saat ini.

Dia mempertahankan sekitar 50 lebih oklak, namun hanya sekitar 25 oklak yang dioperasikan. Satu oklak, kata dia,  menghasilkan kain tenun lurik sepanjang 10 meter atau  sekitar 250-300 meter setiap bulan. Oklak adalah sebuatn lain untuk alat tenun bukan mesin. Jika dengan mesin, setiap hari bisa menghasilkan  30-50 meter kain lurik untuk setiap mesinnya.

“Sekarang ini usaha lurik tidak lagi seperti dulu. Masa keemasan sudah lewat. Tapi saya telanjur jatuh cinta sehingga mau tidak mau harus bertahan. Ini bukan semata-mata demi uang, tapi lebih pada keinginan saya untuk melestarikan lurik Pedan,” ujar Rachmad.

Rachmat tidak mengarang. Di Pedan, industri rumahan tenun lurik manual kini hanya tersisa dua. Satu miliknya sendiri dengan 70 orang  pekerja yang sebagian besar berusia lanjut.

Satu industri lainnya adalah milik Ibu Diro yang skalanya lebih kecil dengan hanya beberapa pekerja. Namun usaha lurik Ibu Diro ini terseok-seok karena tidak mampu melahirkan kreasi baru mengikuti selera pasar, terutama untuk jenis kain dan motifnya.

“Ibu Diro bertahan dengan motif tradisional  yang konvensional, padahal motif seperti itu mulai kurang diminati. Tidak ada orang muda di sana (Ibu Diro) sehingga tidak ada yang berani melakukan eksperimen,” ujar Rachmad.

Bagi Rachmad, pada masa-masa sekarang industri lurik di Pedan sekadar untuk bertahan hidup, bukan lagi sebuah industri yang menjanjikan kekayaan berlimpah seperti pada masa 30 tahun atau 40 tahun lalu.

Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup Rachmad, tapi juga puluhan pekerja yang bekerja di industri rumahannya, salah satunya adalah Tukinem (70).

”Sehari masih bisa menenun sekitar 7 meter, dibayar Rp 3.000 per meternya. Lumayan bisa untuk membeli beras dan bumbu dapur ,” ujar Tukinem yang bekerja pada Rachmad sejak masih gadis.

Hingga kini, sisa-sisa kejayaan lurik pun masih terlihat di rumah sekaligus tempat usaha Rachmad di Desa Tlingsing, Pedan, Klaten, Jawa Tengah. Arif Purnawan, salah seorang anak Rachmad, menunjukkan tumpukan kertas pesanan lurik dari beberapa negara, seperti Amerika, Australia, Singapura, Malaysia, dan Belanda. Memo-memo pesanan yang sudah lecek karena ditulis pada periode tahun 1950 hingga tahun 1970-an.

“Dulu, kalau tidak sanggup melayani pesanan, bapak (Rachmad) membagi-bagikan pesanan itu kepada pengusaha lain. Jadi semua pengusaha ikut menikmati,” jelas Arif yang kini meneruskan  usaha tenun milik ayahnya.

Jejak kejayaan industri lurik lain adalah keberadaan 50-an tustel -sebutan untuk alat tenun bukan mesin (ATBM)- yang terbengkelai di bagian belakang rumah Rachmad. Pemandangan serupa juga bisa ditemukan di sebagian besar rumah warga lain di Pedan.

Kalau dikumpulkan jumlahnya mencapai ribuan tustel. Kondisinya tidak terawat karena sudah lama tidak dioperasikan. Biasanya karena tidak ada anggota keluarga yang mau meneruskan usaha lurik.

“Tidak digunakan, tapi pemiliknya tidak mau menjualnya. Mereka gengsi,wong pengusaha kok jual-jual barang. Mereka takut dibilang bangkrut dan miskin,” jelas Arif.

Jika hingga kini usaha lurik Rachmad masih bertahan, itu karena keterbukaannya untuk mengeksplorasi dan melahirkan kreasi-kreasi baru untuk produknya. Dibantu anak-anaknya, Rachmad misalnya berkreasi menggunakan bahan baku benang katun atau sutra kualitas baik yang dipadukan dengan serat alami.

Dari sisi motif, Arif berkreasi memadukan motif  klasik hujan liriswarna hitam putih dengan warna hijau toska,  atau merah maron. Sesekali, ia menyisipkan ornamen batik, baik cap maupun tulis,  ke dalam motif klasik, seperti klenting kuning, sodo sakler, lasem, tuluh watu, lompong keli, kinanti, atau punkembang tela.

Dalam perkembangannya,kreativitas juga memunculkan motif-motif baru, antara lain yuyu sekandang, sulur ringin, lintang kumelap, hujan gerimis, dan galer.

“Eksplorasi harus terus dilakukan karena kalau bertahan pada lurik konvensional pasti akan ditinggalkan pasar. Jadi dalam sebulan harus ada motif baru,” ujar Arif.

Namun, bukan berarti kreativitas itu tanpa masalah. Salah satunya adalah masalah tenaga kerja. Para pekerja yang sebagian besar berusia lanjutmengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan motif-motif eksperimen seperti itu.

“Kami ajari mereka pelan-pelan, selain juga melakukan regenerasi. Sebab tidak mungkin bagi kami membuang pekerja-pekerja yang sudah tuabegitu saja,” jelas Rachmad yang memulai usahanya pada tahun 1960.

Arif menuturkan dalam empat tahun terakhir ini, dia bersama ayahnya menularkan ilmu tenun lurik ke beberapa tetangga serta warga di luar wilayah Kecamatan Pedan. Bukan hanya mengajarkan secara gratis, tetapi juga memberikan alat tebun secara cuma-cuma serta memberikan pinjaman modal usaha. Langkah ini dilakukan semata-mata agar perajin lurik tidak mati.

Hasilnya, beberapa pengusaha lurik mulai bermunculan di Kecamatan Cawas, Klaten, dan Kecamatan Weru, Sukoharjo. Meskipun belum sampai menjual produksinya hingga ke luar negeri, namun beberapa perajin di wilayah itu sudah berhasil melayani pembeli dari berbagai kota di Indonesia.

“Bagi saya, jangan sampai lurik hanya menjadi artefak, menjadi benda mati. Lurik harus menjadi kata kerja. Jangan sampai lurik hanya tinggal cerita,” ujar Rachmad yang pernah menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Ironisnya, menurut Arif, Pemerintah Daerah Kabupaten Klaten, nyaris tak memberi kontribusi apa pun terhadap kehidupan lurik di Pedan. Arif mengungkapkan para perajin lurik sempat berharap ketika pemerintah setempat mewajibkan seluruh pegawai negeri sipil (PNS) mengenakan lurik pada setiap hari Rabu dan Kamis.

Namun, harapan perajin menguap. Sebab, pemerintah tidak memesan lurik dari perajin tenun di Pedan, melainkan memesan lurik printingdari sebuah perusahaan tekstil di Bandung.

“Ironis memang. Tapi itulah yang terjadi. Pemerintah seolah-olah mempertarungkan perajin dengan pabrik tekstil,” ujar Arif.(*)

 

Berikut ini foto-foto proses pembuatan tenun lurik Pedan:

 

Lurik Pedan Melintasi Zaman
Ganug Nugroho Adi/Soloraya

 

Lurik Pedan Melintasi Zaman
Ganug Nugroho Adi/Soloraya

 

Lurik Pedan Melintasi Zaman
Ganug Nugroho Adi/Soloraya

 

Lurik Pedan Melintasi Zaman
Ganug Nugroho Adi/Soloraya

 

Lurik Pedan Melintasi Zaman
Ganug Nugroho Adi/Soloraya

 

Lurik Pedan Melintasi Zaman
Ganug Nugroho Adi/Soloraya

 

Lurik Pedan Melintasi Zaman
Ganug Nugroho Adi/Soloraya

 

 

1 Comment

Comments are closed.