Nasi liwet, kuliner Solo malam hari yang paling populer

Masyarakat Solo Raya sudah tidak asing lagi dengan keberadaan nasi liwet sebagai salah satu kuliner malam hari. Popularitas nasi liwet tidak hanya ada di Soloraya tapi sudah samapi tingkat nasional.

Sejumlah kawasan di Kota Solo, Sukoharjo, Klaten, Yogyakarta menjadi lebih hidup pada malam hari dengan kehadiran kuliner berupa nasi liwet ini. Sejarah yang panjang mengiringi keberadaan nasi liwet sebagai kuliner sejak jaman dulu.

Sejarah nasi liwet berasal dari dua tempat sekaligus yaitu daerah Duwet, Baki, Sukoharjo serta Keprabon, Banjarsari, Surakarta. Hubungan kedua tempat tersebut dalam eksistensi nasi liwet sejak jaman dulu hingga saat ini tak terpisahkan.

Duwet adalah wilayah dimana pelaku usaha nasi liwet tinggal dan bekerja. Sedangkan Keprabon adalah lokasi paling populer di Solo untuk mendapatkan nasi liwet. Di tempat ini pula, selain Duwet, menjadi tempat pelaku usaha memproduksi nasi liwet.

Cipto Sukani, wanita berusia 57 tahun dari Desa Duwet, Kecamatan Baki  menjadi saksi sejarah keberlangsungan nasi liwet sebagai usaha yang sudah berjalan 100 tahun lebih yang dilakukan neneknya, Mbah Warto. Mbah Warto menjadi generasi pertama pembuat nasi liwet di Desa Duwet.

Generasi pertama tersebut kemudian diteruskan Bu Wongso sebagai generasi kedua dan dua anaknya, Cipto Sukani (anak pertama) dan Suparmi (anak kedua) sebagai generasi ketiga.

“Bu Wongso sudah berjualan nasi liwet lebih dari 30 tahun,”kata Sukani, saat ditemui di rumahnya, RT III RW IV Dukuh Mbulan, Desa Duwet, Kecamatan Baki, Minggu (28/6).

Sementara ke empat anak Bu Wongso Lemu, yaitu Suparmo, Suparno, Suparjo, Sumarni memilih bekerja diluar membuat nasi liwet. Suparno sekarang menjadi Kepala Desa Duwet. Sementara Suparjo menjadi salah satu Kaur (bayan) di Desa Duwet.

nasi liwet
Miyati, anak dari Sukani menyiapkan menu nasi liwet untuk pembeli di sentra nasi liwet Keprabon, Solo.

Sukani menyejarahkan, Bu Wongso belajar membuat nasi liwet dari ibunya, Mbah Warto sejak umur belasan tahun Sukani tak ingat  tahun kapan Bu Wongso belajar membuat nasi liwet dari ibunya tersebut.

Hal yang sama disampaikan Atik Tri Wulandari, anak kedua dari Suparmi, adik Sukani. Menurut Atik, sudah sejak kelas dua SR, Suparmi belajar membuat nasi liwet kepada Bu Wongso. Hingga saat ini, sudah lebih dari 30 tahun,Suparmi berjualan nasi liwet yang ia masak sendiri.

“Saya sudah 15 tahun berjualan nasi liwet bersama bareng Ibu Saya, Suparmi. Saya masih berjualan,yang masak ibu saya atau tukang masak ibu saya yang sudah pandai memasak nasi liwet,” kata Atik saat ditemui warung nasi liwet yang juga menjadi tempat masak Suparmi di jalan Teuku Umar No. 34 Keprabon, Banjarsari, Surakarta, Minggu (28/6).

Sementara itu, Miyati, anak nomer empat Sukani juga meneruskan usaha ibunya itu berjualan nasi liwet di Jalan Teuku Umar No 32, atau terletak satu warung di sisi utara warung liwet milik Suparmi. “Saya sudah hamper 20 tahun berjualan nasi liwet.Saya menjual nasi liwet yang dimasak ibu Sukani,” kata Miyati.

Keprabon memiliki catatan sejarah penting bagi dua anak Bu Wongso Lemu-nama yang diberikan penggemar nasi liwet Bu Wongso yang pada kemudian hari menjadi begitu popular di masyarakat Duwet, jauh melewati popularitas Mbah Warto, generasi pertama pembuat nasi liwet di Desa Duwet.

Sukani, anak pertama Bu Wongso Lemu, menceritakan, penjualan nasi liwet pertama kali dilakukan di Keprabon, demikian pula dengan memasak nasi liwet yang dilakukan neneknya, Bu Warto.

Pada saat itu, Keprabon dan Duwet menjadi dua tempat yang penting bagi Bu Wongso Lemu dan dua anaknya, Sukani dan Suparmi yang mengikuti jejak ibu mereka tersebut. Hingga kemudian, prahara keluarga Bu Wongso muncul yang masih berlangsung hingga saat ini.

Menurut Sukani, dulu, ibunya, dirinya dan Suparmi sudah sepakat menyewa tempat di Keprabon selama tiga tahun. Tiga wanita itu sepakat menempati lahan tersebut masing-masing selama satu tahun.

Namun entah kenapa, penyewaan lahan baru berjalan dua bulan dan pada saat itu, Bu Wongso Lemu yang menempati tempat sewaan itu, diambil alih oleh Suparmi. Sejak saat itulah, Sukani memilih pulang ke Desa Duwet dan bekerja memasak dan berjualan nasi liwet dari rumah.

Sementara itu, hingga saat ini, Suparmi, menurut Atik Tri Wulandari, anak keduanya, masih memasak nasi liwet di dua rumah Jalan Teuku Umar No 30 dan 34 Keprabon yang sudah jadi milik Suparmi setelah membelinya dari seorang keturunan China.

Satu rumah milik Suparmi digunakan untuk tempat jualan.Sedang rumah yang satunya digunakan untuk memasak dan berjualan. Pada rumah di Jalan Teuku Umar No 34 itulah, dijadikan tempat jualan nasi liwet sejak tahun 2000 yang lalu.

Sedang rumah Suparmi satunya, yang berada di jalan Teuku Umar no 30 saat ini ditempati kakak Atik Tri Wulandari yang bernama Darsini. Maka jadilah jalan Teuku Umar Keprabon, Banjarsari menjadi jalan yang penuh memori susah senang generasi nasi liwet Bu Wongso Lemu,sang legenda nasi liwet di Soloraya sejak lebih dari 50 tahun lalu.

Resep nasi liwet

Tak ada resep istimewa nasi liwet yang dibuat Bu Wongso Lemu, wanita legendaris pembuat nasi liwet yang meninggal pada tahun 1997 tersebut. Demikian pula dengan dua anak Bu Wongosi (Cipto Sukani dan Suparmi).

Menurut Sukani, Bu Wongso tidak pernah memberi resep istimewa apapun kepada dirinya juga kepada adiknya, Suparmi. Begitu juga dengan cara memasak nasi liwet juga tidak ada yang istimewa.

“Tidak ada. Biasa saja. Yang membedakan adalah tangan pembuatnya,” kata Sukani saat ditemui di rumahnya di RT III RW IV Dusun Bulan Desa Duwet,Kecamatan Baki, pada Minggu (28/6).

Terkait bahan untuk nasi liwet, Sukani mengatakan lebih banyak menggunakan beras lele super atau beras jenis IR 64. Sementara untuk lauk, Sukani menggunakan daging ayam kampung. Demikian juga dengan hati dan rempela yang digunakan untuk lauk pauk juga dari ayam kampung.

Kalau saat sepi jualan nasi liwet, Sukani bisa memotong ayam kampung sebanyak lima-enam ekor. Demikian pula dengan beras sebagai bahan baku utama nasi liwet, pada saat sepi pengunjung warung hanya bisa memasak 18 kilogram.

“Tapi kalau ramai pengunjung atau pesanan seperti saat lebaran misalnya, ayam kampung yang dipotong bisa mencapai 20-25 ekor ayam. Sedang beras yang dimasak bisa sampai 300 sampai 400 kilo,” kata Sukani.

Sementara itu, untuk sayur dan kuahnya, Sukani menggunakan labu siyam (Jepan). Lauk yang lain adalah telur, sejumlah jenis gorengan hingga kerupuk.

Resep masakan nasi liwet yang kurang lebih sama dengan Sukani juga dilakukan Suparmi yang hingga saat ini masih memasak nasi liwet di tempat jualannya di jalan Teuku Umar No 34, Keprabon, Surakarta.

Menurut Atik Tri Wulandari, anak kedua Suparmi, ibunya itu, lebih suka menggunakan beras jenis Menthik Wangi dan Membramo. Sementara lauk pauknya adalah daging ayam kampung, ati serta rempela ayam kampung dan opor kering.

Demikian juga dengan cara memasak nasi liwet, dua anak Bu Wongso ini juga kurang lebih sama caranya. Mereka sama-sama menggunakan kayu bakar, sisa gergaji kayu serta minyak tanah. Dengan menggunakan sejumlah bahan bakar tradisional tersebut, menghasilkan olahan nasi liwet yang berbeda apabila menggunakan gas elpiji misalnya.

“ Saya mulai memasak sekitar pukul satu siang nanti jam empat sore sudah selesai. Lalu dibawa anak saya, Miyati, untuk dijual ke Keprabon untuk dijual,” kata Sukani. Miyati adalah anak ketiga dari Sukani.

Sementara itu, dibutuhkan waktu dari jam 06.00 pagi hingga jam 15.00 bagi Suparmi untuk memasak nasi liwet, lauk pauk hingga sayur yang akan dijual oleh Atik ,anak kedua Suparmi.

Pelanggan nasi liwet

Popularitas nasi liwet buatan Bu Wongso Lemu sungguh luar biasa. Setidaknya itu bisa dilihat dari siapa yang pernah memesan nasi liwet hasil masakan tangan Bu Wongso Lemu: dua presiden sekaligus, Almarhum Presiden Soeharto dan Jokowi.

Sukani, anak pertama Bu Wongso Lemu bercerita, nasi liwet buatan Bu Wongso pernah dinaikan pesawat terbang ke Jakarta almarhum Presiden Soeharto pada waktu itu memesan 100 nasi liwet

“Pernah sekali nasi liwet ibu saya dinaikan pesawat terbang. Tapi tahun berapa saya sudah lupa?” kata Sukani saat ditemui di rumahnya, di Dukuh Mbulan, Desa Duwet, Kecamatan Baki.

Sukani masih ingat, almarhum Presiden Soeharto, juga beberapa kali memesan nasi liwet buatan ibunya. Waktu itu, pesanan nasi liwet dari Presiden Indonesia nomer dua itu diminta diantar ke nDalem Kalitan, rumah pribadi Soeharto di Solo.

“Pernah pesan dua kali yang pertama pesan 100 bungkus nasi liwet, yang ke dua pesan 75 bungkus,” kenang Sukani. Pada saat itu, cerita Sukani, satu bungkus nasi liwet diharga Rp 10 ribu sehingga memberi penghasilan yang cukup besar bagi Bu Wongso.

Sementara itu, pada saat Presiden Jokowi masih menjadi Walikota, Sukani pernah menerima rombongan tamu Jokowi yang jumlahnya 50 orang. Mereka bahkan ada yang minta tambah nasi liwet pada saat itu.

“Pada saat para tamu Pak Jokowi tersebut harga satu bungkus nasi liwet seharga Rp 8 ribu,” kata Sukani beberapa kali ia menerima tamu Jokowi yang mencari kuliner nasi liwet di warungnya di Keprabon.

Pelanggan nasi liwet Bu Wongso tidak hanya berasal Jawa Tengah saja, tapi juga sejumlah daerah di Jawa Timur terutama daerah-daerah yang dekat dengan perbatasan Jawa Timur seperti Madiun dan Ngawi. “Langganan saya ada juga yang datang dari Sumatra, Kalimantan, Jakarta,” kata Sukani.

Selain berjualan di Keprabon, Sukani juga menerima pesanan nasi liwet di rumahnya. Pemesan datang dari berbagai wilayah di Sukoharjo hingga Surakarta. Nasi liwet buatan Sukani juga menjadi langganan dari sejumlah restoran di Surakarta.

Dalam satu tahun, bisa dikatakan, hampir sepanjang waktu,nasi liwet buatan Bu Sukani dan Suparni tak pernah sepi pembeli. Hal tersebut diakui Miyati, anak ketiga Bu Sukani dan Atik Wulandari, anak kedua Bu Suparmi. “Pas lebaran atau musim oarng punya hajatan biasanya pesanan sangat banyak,” kata Atik Wulandari.

Usaha pendukung nasi liwet

Sebagai daerah sentra nasi liwet, walau tidak mendominasi sebagai mata pencaharian hidup, bisa dikatakan cukup banyak warga Desa Duwet yang menjadi pelaku usaha nasi liwet serta usaha pendukung dari nasi liwet itu sendiri.

Misalnya saja para penjual ayam kampung untuk keperluan lauk pauk nasi liwet yang dibuat warga Duwet. Demikian pula dengan usaha jual beli daun pisang yang terjadi antara pelaku usaha nasi liwet di daerah Duwet dengan luar daerah Duwet.

Menurut keterangan perangkat desa Duwet, Giyata, dari 3792 jumlah penduduk di Desa Duwet lebih dari 10 persennya adalah pelaku usaha nasi liwet. Mereka tersebar pada sembilan dusun di dua kebayan yang ada di Desa Duwet.

“Semua dusun di Desa Duwet pasti ada warga yang berjualan nasi liwet walaupun tidak semua menjadi pelaku usaha nasi liwet. Yang paling terkenal ya Bu Wongso Lemu itu,” kata Giyata yang menjadi salah satu Kaur di Desa Duwet.

Pelaku usaha nasi liwet dari Duwet tersebut berjualan ke berbagai wilayah di Soloraya hingga Yogyakarta seperti Solo, Sukoharjo, Kartasura, Klaten, Delanggu hingga Yogyakarta.

“Bisa dikatakan semua pedagang nasi liwet di daerah Solo berasal dari Duwet misalnya di Keprabon itu, atau di wilayah Purwosari,” kata Giyata.

Usaha nasi liwet telah menggerakkan perekonomian di Desa Duwet Karena selain pembuat nasi liwet, usaha ikutan yang mendukung usaha nasi liwet juga berjalan di Desa Duwet.

Salah satu usaha ikutan dari usaha nasi liwet tersebut adalah usaha penjualan ayam kampung yang dilakukan cukup banyak masyarakat Desa Duwet sehingga secara ekonomi bisa memberikan penghasilan memadai untuk meningkatkan taraf hidup warga.

“Kalau kita sudah keliling desa ini, bisa melihat bentuk rumah-rumah warga Duwet yang bagus-bagus. Mereka ini adalah pelaku usaha nasi luwet dan usaha turunannya seperti penjual ayam kampung,” kata Giyata.

Salah satu pelaku jual beli ayam kampung untuk kebutuhan pelaku usaha nasil liwet adalah Miyati, anak ketiga, Sukani. Miyati yang juga membantu berjualan nasi liwet di warung Sukani di Keprabon tersebut sudah cukup lama menjadi pelaku usaha jual beli ayam kampung bersama suaminya, Agus Sriyono

“Yang jual beli ayam kampung suami saya. Dijualnya ke tetangga sendiri. Jadi suami saya ambil dulu ayam kampungnya di di daerah Baki. Setelah itu dijual lagi di rumah,” kata Miyati.

Menurut Miyati, setiap hari, Agus Sriyono bisa menjual 45-50 ekor ayam kampung dengan harga bisa lebih dari 70 ribu.

Selain ayam kampung, penjual beras sebagai bahan pokok pembuatan nasi liwet dari luar desa Duwet juga menjadi pemasok beras jenis lele super, IR 64 atau jenis lainnya yang dibutukan pelaku usaha nasi liwet di Desa Duwet. (Joey)