Tempat wisata ritual tidak masuk akal di Wonogiri

Wilayah Soloraya memiliki banyak tempat dengan fenomena alam yang menarik sekaligus tidak masuk akal. Wonogiri adalah salah satu wilayah yang cukup banyak memiliki lokasi mistis yang sekaligus jadi tempat ritual semadi bagi sebagian orang.

Nah, salah satu tempat yang memiliki fenomena alam tak masuk akal di Wonogiri adalah petilasan makam Mbah Manten yang berada di Dusun Sambi, Desa Ketos, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri.

Kemistisan makam Mbah Manten ada pada salah satu pohon dari tiga pohon yang ada di petiliasan ini yaitu pohon Unut. Dua pohon lainnya disebut pohon Doya dan pohon Ipik.  Nah, daun kering pohon Unut ini bila jatuh selalu berada di bawah pohon Unutnya.

Padahal di sekitar pohon Unut ini adalah tanah lapang yang luas sehingga bila ada angin kencang bertiup mengaburkan daun kering  dari pohon Unut hingga jauhkeluar dari pohon Unut.

Namun nyatanya sejak dulu hingga saat ini, daun kering yang jatuh dari pohon Unut itu terhimpun di bawah pohon membentuk pola mengelilingi pangkal pohon.

Menurut persepsi banyak orang, jatuhnya daun kering yang selalu didekat pohon Unut itu adalah simbol cinta kasih dari sepasang pengantin baru yang harus mengalami nasib naas karena melanggar pantangan setelah menikah.

Diceritakan secara turun temurun oleh warga di Desa Ketos, pada jaman dahulu, ada seorang pemuda dari Dusun Ngropoh, Desa Ketos, Paranggupito yang menikahi seorang gadis dari Desa Paranggupito. Di daerah Ketos sendiri ada pantangan bagi pasangan pengantin baru.

Pantangan tersebut adalah tidak boleh bepergian sebelum lima hari setelah pernikahan atau dalam bahasa Jawa disebut ‘sepasar’. Namun entah dengan alasan apa, pasangan pengantin baru itu melanggar pantangan tersebut.

Baru tiga hari menjalani pernikahan, pasangan pengantin baru ini melanggar pantangan tersebut. Mereka pergi dari Desa Paranggupito guna menjenguk orang tua pengantin pria yang ada di Desa Ketos. Namun, pasangan pengantin baru itu tidak pernah sampai ke rumah orang tua pengantin pria.

Mereka hilang di tengah hutan belantara desa Ketos. Selang beberapa waktu berlalu, warga desa Ketos, menemukan tulang belulang dua manusia di sekitar pohon Unut. Desa Ketos. Tulang belulang itu, lalu dimakamkan di dekat pangkal pohon Unut ini.

Nah, pohon serta makam ini hingga saat ini dikenal dengan nama petilasan atau makam Mbah Manten. Di makam Mbah Mantenan ini hingga saat ini menjadi tempat ritual warga.

Petilasan Mbah Manten_
Petilasan makam Mbah Manten. (Soloraya.com)

Keunikan yang terjadi pada pohon Unut itu juga menarik untuk dijadikan sebagai tempat wisata ritual Soloraya fenomena karena daun kering yang jatuh membentuk pola lingkaran pohon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *