Kelasi, tetap jadi andalan wisata Hutan Alam Baning

Saat ini kelasi atau lutung merah tetap menjadi andalan obyek wisata Hutan Alam Baning. Namun Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Sintang Kalbar, Bharata Sibarani, mengakui belum bisa mendata nsecara akurat jumlah kelasi yang ada di hutan seluas 213 hektare itu.

Bharata menambahkan pihaknya berencana mendata jumlah kelasi dan beberapa fauna lainnya yang ada di hutan. “Nanti akan didata, sehingga kita tahu potensinya. Tidak hanya fauna, flora yang ada di dalam juga. Zonasi pemanfaatan Hutan Wisata Baning juga sudah proses agar nanti Pemkab Sintang bisa memanfaatkan sebagai kawasan wisata,” katanya.

Kelasi atau lutung merah
Kelasi atau lutung merah. (Foto: Tribunnews)

Keberadaan kelasi atau lutung merah dianggap Bharata sebagai nilai tambah Hutan Wisata Alam Baning. Tentunya bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk singgah ke Hutan Wisata Alam Baning saat berkunjung ke Sintang.

“Hutan Wisata Alam Baning ini aset dan ikon. Semoga ke depan, hutan unik yang berada di tengah-tengah hutan ini terus terjaga kelestariannya baik fauna dan flora. Sehingga, generasi muda dan generasi masa depan masih bisa melihatnya. Tidak hanya  mendengar nama saja,” ujarnya seperti dikutip Tribunnews.

Obyek wisata unik

Obeyk wisata ini unik lantaran sebagai satu diantara dari dua hutan alami tengah kota yang ada di Indonesia, setelah Hutan Wisata Punti Kayu di Palembang.

Hutan alami seluas 213 hektare ini kaya akan potensi keanekaragaman hayati. Dari segi flora, terdapat berbagai tumbuhan dan pepohonan khas hutan tropis diantaranya kantong semar, meranti, serta lainnya. Tak hanya itu, Hutan Wisata Alam Baning juga menjadi habitat beragam fauna.

Obyek paling fenomenal tentunya adalah kelasi atau lutung merah yang bernama latin Presbytis Rubicunda. Jika anda beruntung dan betah menunggu, kita bisa menjumpai kelasi saat melintasi Jalan Kelam. Tidak hanya satu, namun puluhan. Para kelasi berayun-ayun bak pemain akrobatik di dahan-dahan pohon.

Kelasi atau lutung merah.
Foto: Tribunnews

Lazimnya, hewan imut yang hidup berkoloni ini memakan buah-buahan pohon hutan yang berada di tepi jalan. Para kelasi dengan santainya makan buah hutan kendati suara bising kendaraan bermotor hilir mudik sepanjang jalan. Tidak hanya kelasi jantan, namun juga para kelasi betina. Ukuran badan dan usianya juga berbeda-beda.

Kelasi tua dan muda juga ikut memanen buah. Ada juga kelasi betina yang menggendong anaknya yang masih bayi.

Jika diamati para kelasi menampakkan diri sebanyak dua kali saban hari. Waktunya tidak bisa dipastikan, namun bisa diperkirakan yakni pagi hari sekitar pukul 08.00-10.00 WIB dan sore hari sekitar pukul 14.00-16.00 WIB.

Namun, jangan sekali-sekali membuat kejutan. Jika anda kejutkan, kelasi jantan yang menjadi pemimpin koloni akan berteriak kuat, lantas serta-merta membuat seluruh kelasi pontang-panting lari masuk ke dalam hutan.

Lucu banget, namun akan buat anda nyesek karena harus menunggu kelasi keluar lagi dengan waktu cukup lama.

Tontonan gratis saat kelasi-kelasi berkumpul ini jelas menarik perhatian. Bahkan bisa jadi spot rekreasi masyarakat Sintang saat perlu penyegaran diri. Ini terbukti dengan beberapa masyarakat yang memberhentikan kendaraannya saat melihat kelasi sedang berkumpul dan makan buah-buahan hutan.